Kabar diadakannya reshuffle awal Mei santer terdengar. Kini Presiden SBY tengah merumusakan siapa saja para pembantu presiden yang akan diganti? tentunya itu merupakan hak prerogatif Presiden. Beberapa usalan masuk sebagai bahan pertimbangan Presiden, diantaranya menteri yang pantas diganti yaitu yang tidak mampu mengemban amanat, kurang dukungan politik, sakit-sakitan, bahkan berita terakhir yang muncul, ada dua nama menteri yang sangat pantas untuk diganti karena sering tertidur saat rapat kabinet yang dipimpin oleh Presiden sendiri. “Bayangkan rapat kabinet saja tidur, bagaimana mau memimpin rapat di kantornya” (Rakyat Merdeka, senin 30 Mei 2007). Memang Presiden sendiri mempunyai etika yang tinggi dengan tidak mengungkapkan siapa saja nama nama menteri tersebut, dan sampai saaat inipun, etika ini tetap dijunjung tinggi oleh beliau. Arti penting menjunjung tinggi etika dan kesopanan sebagai budaya adat timur adalah suatu kelebihan yang membedakan kita dengan adat barat dan itu sangat disadari dan dijalankan oleh beliau. Sebuah pernyataan baik lainnya yaitu bahwa presiden tidak akan menganti kursi menteri kepada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi, tugas, serta tanggung jawabnya walau pistol ditodongkan di kepala beliau. ini merupakan pernyataan tegas yang tentunya merupakan simbol dari niat tulus presiden akan perbaikan pembangunan Indonesia.